Friday, August 3, 2018

Ekspedisi Mencari Dinding Besi


Related image

 Suatu malam, Khalifah Watsiq bin Mu’tasim Billah (Al-Watsiq) bermimpi: tembok yang pernah dibangun oleh Zulkarnain telah terbuka. Itu berarti, kaum yang berada di dalamnya, yaitu Ya’juj wa Ma’juj, telah berkeliaran di alam bebas. Perihal mimpi khalifah al Watsiq tentang telah berkeliarannya Ya’juj wa Ma’juj itu tertulis dalam sebuah manuskrip Arab, catatan Ibnu Khurradadhbih, dengan redaksi sebagai berikut: “Sallam al Tardjuman memberitahu saya [Ibnu Khurradadhbih]: “Ketika al Watsiq Billah melihat dalam mimpinya bahwa tembok yang dibangun Zulkarnain untuk memisahkan kita dengan Ya’juj wa Ma’juj telah terbuka, dia mencari seseorang yang bisa dia kirim ke tempat itu [di mana tembok berdiri] untuk mencari informasi perihal tersebut”.”


Sallam al Tardjuman adalah orang yang diutus Khalifah al Watsiq —Khalifah kesembilan Dinasti Abbasiyah, yang memerintah Baghdad pada 842–847 M— untuk mencari tembok Zulkarnain. Ada pun Ibnu Khurradadhbih adalah salah seorang yang mencatat kata-kata yang didiktekan Sallam, yang berisi catatan perjalanan, perintah Khalifah, dan laporan Sallam kepada Khalifah. Catatan Ibnu Khurradadhbih tersebut dibukukan dengan judul Kitab al-Masalik w’al Mamalik yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Book of Routes and Kingdom, dan diceritakan pula dalam “Gog and Magog in Early Eastern Christian and Islamic Sources; Sallam’s Quest for Alexander’s Wall”, karya Emeri van Donzel dan Andrea Schmidt.
Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi karya al-Idrisi, bahwa untuk tugas pentingnya mencari tembok Zulkarnain, Khalifah al-Watsiq, tulis al-Idrisi, membekali Sallam dengan 5.000 dinar, 10 ribu dirham sebagai uang darah, dan 50 pemuda berbadan kuat. Khalifah juga memberikan kepada pemuda yang menemani Sallam masing-masing seribu dirham dan biaya hidup selama setahun. Selain itu, Khalifah juga memerintahkan agar semua anggota rombongan menyesuaikan cara berpakaian-nya dengan pakaian penduduk kawasan yang hendak didatangi, seperti menambahkan kulit dan bulu binatang pada pakaian dan sepatu. Khalifah juga memberikan 200 ekor keledai untuk membawa perlengkapan dan air.
Rombongan Sallam berangkat dari Samarra (Iraq) menuju Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada. Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Sesampainya di kawasan Igu, disitu ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter. Di sana, Sallam mendapati tembok tersebut telah retak. Dia sempat mencungkil bagian tembok yang retak tersebut dengan pisau, mengambil sebagian serpihannya, untuk diperlihatkan kepada Khalifah al-Watsiq.
Related image
Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).
Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari balik pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan di sekitarnya. Hal itu menunjukkan bahwa di balik pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya-juj-Ma-juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk disitu melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhstan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a (Samarra), Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
Total waktu perjalanan Sallam, menurut catatan al-Idrisi, berlangsung selama 28 bulan. Perjalanan mencari tembok memakan waktu 16 bulan, sedangkan perjalanan kembali memakan waktu 12 bulan. Sedangkan total waktu tempuh perjalanan Sallam menurut perkiraan Emeri van Donzel dan Andrea Schmidt dalam bukunya “Gog and Magog in Early Eastern Christian and Islamic Sources; Sallam’s Quest for Alexander’s Wall” adalah 6281 km (lihat tabel di bawah). Selain itu, ekspedisi ini juga memakan korban yang tak sedikit.
tabel sallamKeterangan: Tabel diatas memperlihatkan waktu tempuh yang dilakukan Sallam selama perjalanannya dalam mencari Tembok Zulkarnain.
Sumber: “Gog and Magog in Early Eastern Christian and Islamic Sources”
Sallam tiba kembali di Samarra, dan melaporkan temuannya kepada Khalifah al-Watsiq. Tak lama setelah ekspedisi tersebut, al-Watsiq wafat dalam usia muda, yaitu 32 tahun.
Berjarak sekitar enam puluh tahun sejak perjalanan Sallam, Khalifah Abbasiyah ke-18, al-Muqtadir (908-932 M), juga mengirimkan ekspedisi ke utara, menuju ke Kerajaan Bulgar di daerah Volga (sekarang masuk wilayah Rusia). Ekspedisi ini dipimpin oleh Ahmad Ibnu Fadlan pada tahun 921 M sebagai respon atas permintaan bantuan mereka, dan juga untuk mendakwahkan Islam. Ibn Fadhlan memberikan laporan yang sangat menarik tentang keadaan wilayah yang berada di utara kekhalifahan Islam itu berikut ciri-ciri masyarakatnya.
Penjelasan Ibn Fadhlan bukan hanya menarik bagi orang-orang yang membacanya pada masa itu, tetapi juga para peneliti dan pembaca yang hidup di zaman sekarang ini. Bahkan Michael Crichton, seorang novelis Barat modern terinspirasi oleh kisah Ibn Fadhlan ini dalam menuliskan novelnya, Eaters of the Dead yang kemudian difilmkan menjadi The 13th Warrior yang dibintangi oleh Antonio Banderas, dengan menjadikan Ibn Fadhlan sebagai tokoh utama ceritanya, walaupun pada kenyataannya cerita dari novel dan film tersebut sudah melenceng dari faktanya. Cerita yang ada di film itu sebenarnya disadur dari literatur klasik (turats) arab kategori adab rihlah (prosa perjalanan) yang berjudul Rihlah Ibn Fadhlan ila Biladit Turk war Ruus wash Shaqalibah (Perjalanan Ibn Fadhlan; ke Wilayah Turki, Rusia, dan Slavic).
the 13th warriorTampak pada gambar diatas sampul film The 13th Warrior yang dibintangi Antonio Banderas
Sumber: heaval.blogspot.com
Literatur perjalanan ini dikarang langsung oleh Ahmad ibn Fadhlan yang menjadi perwakilan dari khalifah dinasti Abbasiyah Al-Muqtadir billah (295 H) untuk memenuhi permintaan penguasa wilayah Slavic (Shaqalibah) yang bernama Al-Musy ibn Bulthuwar (versi arab) yang ingin mengerti lebih jauh tentang agama Islam dan syariatnya, sekaligus memohon dinasti Abbasiyah untuk membangunkan benteng maupun masjid di wilayahnya. Rombongan perwakilan terdiri dari Ahmad ibn Fadhlan bersama beberapa ahli fiqh, ahli perjalanan dan rombongan pengawalnya, yang bertolak dari Baghdad pada bulan Shafar 309 H. Dan perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 tahun.
Salah satu cerita menarik dalam perjalanannya itu, dia mengidentifikasi orang-orang yang posturnya setinggi pohon kurma, bermata biru, berkulit putih, berambut kemerahan. Dia mendapat informasi bahwa orang-orang tersebut adalah Ya’juj wa Ma’juj.

Dari kisah Sallam al Tardjuman diatas, kita dapat mengetahui bahwa Dinding Besi telah retak, dan kemungkinan besar sebagian telah hancur. Saya memperkirakan bahwa Dinding tersebut telah memiliki lubang yang cukup besar yang membuat sebagian kaum Ya’juj wa Ma’juj yang bertubuh mungil dapat melewatinya. Bahkan karena keretakan dan lubang yang dialaminya, membuat sebagian diantara kaum Ya’juj wa Ma’juj juga akhirnya mampu mendaki dinding tersebut.

Image result for wall gog magog
Sedangkan dari cerita Ahmad ibn Fadhlan, kita akhirnya dapat meyakini bahwa Dinding Zulkarnain benar-benar telah terbuka lebar, sehingga membuat seluruh kaum Ya’juj wa Ma’juj termasuk yang berpostur tinggi – besar akhirnya mampu sepenuhnya melewati dinding.
Konon sisa gerbang besi yang masih tersisa sempat dikenali sebagai Dinding Zulkarnain atau yang lebih dikenal dengan sebutan Alexander’s Wall atau Gates of Alexander oleh Timurleng, Klapigeo, Syah Rukh, Slade Verger, Marco Polo, dan Winston Churchil.
Dari ekspedisi Sallam dan Fadhlan diatas, kita bisa memetik hikmah bahwa keberadaan Dinding Zulkarnain bukanlah mitos belaka, faktanya tembok tersebut memang nyata adanya. Tinggal bagaimana kita menelusuri keberadaan lokasi yang dimaksud Sallam dan Fadhlan tersebut pada masa kini.

No comments:

Post a Comment